Maryamah Karpov : ending yang antiklimaks


Itu menurut pendapatku setelah menamatkan ending dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini. Betapa aku (dan banyak orang lainnya) begitu menantikan sebuah ending dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor yang ketiga-tiganya sangat mengagumkan dan inspiring itu, namun...ba'da membaca Maryamah Karpov...aku masih tidak terpuaskan akan endingnya. Yah...pendapat masing-masing pihak memang subjektif sekali...at least itu pendapatku sendiri..hehe...

Mulai dari judul..oke lah..aku masih bisa menerima bila judulnya tidak terlalu bersesuaian dg isi kisah di dalamnya. Mimpi-Mimpi Lintang : Maryamah Karpov, judul yang disematkan Andrea pada novel pamungkasnya itu. Semua orang yang belum menjamah isi bukunya pasti akan berasumsi isi buku tersebut menceritakan tentang Lintang, si jenius Laskar Pelangi, serta Maryamah Karpov, tokoh misteri yang sering diasumsikan sebagai A Ling/si gadis pemain biola anaknya cik Maryamah/ada juga yang berasumsi dia adalah cinta Ikal di Eropa sana mengingat nama belakangnya yang tak umum. Namun disebutkan pula di beberapa novel sebelumnya bahwa Maryamah adalah ciri kaum Melayu yang menentang paham patriarki...wah...ekspektasi ku yang berlebihan saja pada sosok Maryamah ini ataukah semua orang berpendapat serupa denganku? Wallahualam...yang pasti isi dalam buku itu tidak begitu menceritakan tentang Maryamah Karpov ini..hanya ada secuil cerita tentang cik Maryamah yang jago trik catur Karpov sehingga sering mengajarkannya pada penduduk yang sedang duduk-duduk di warung kopi sambil bermain catur. Ada juga sedikit cerita tentang anaknya yang pandai bermain biola hingga lagu-lagu yang dibawakannya selalu membuat hati setiap orang tersayat mendengarnya. Selebihnya? tak ada sosok perempuan yang kuat yang mewakili judul ini...bila yang dimaksud adalah A Ling, sosoknya sendiri baru hadir di mendekati akhir cerita. Untuk mimpi-mimpi Lintang, make sense setelah kita tahu kalau judul itu adalah nama perahu yang dibuat oleh Ikal berdasarkan hasil perhitungan yang cerdas dari Lintang.
Tapi sekali lagi, apalah arti sebuah nama, ungkap Shakespeare...mungkin ini juga yang dimaksudkan oleh Andrea. Oke lah..apalah arti sebuah judul...

Isi cerita menceritakan kisah hidup Ikal ba'da lulus dari Sorborne dan kembali ke kampung halaman, bagaimana gigihnya upaya Ikal untuk menemukan kembali belahan jiwanya, A Ling, walau apapun caranya. Disini juga aku semakin memahami bagian mana yang fiksi dari novel ini...mungkin karena terlalu terlena dengan fakta Laskar Pelangi, sehingga aku seringkali mengaitkan isi novel ini sebagai keseluruhan fakta yang ditulis kembali -daripada sebuah novel yang berisi fiksi, campur fakta-. Namun tragis, endingnya benar-benar antiklimaks bila dibandingkan dengan effort mati-matian yang telah ditempuh Ikal, yang beresiko nyawa.. Yah...biar lebih penasaran ama endingnya itu, baca sendiri aja ya...

Namun aku pribadi saat membaca Maryamah Karpov ini tidak sebegitu antusias dibandingkan tiga buku sebelumnya, tidak ada semangat inspiratif seperti saat aku membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, maupun Edensor. Entah kemana inspiring things yang biasa nya dibawakan oleh Andrea. Ataukah karena disini semangat itu cenderung bersifat personal pada diri Ikal, dan bukannya menyeluruh, sehingga aku sebagai penikmat tidak mampu tertular semangat itu..tak tahulah...

Overall...aku terpuaskan karena telah mengetahui ending dari tetralogi ini..serta akhirnya mengetahui arti hirata itu sendiri..hehe...funny...ada beberapa bagian juga yang bisa membuatku tertawa membaca buku yang paling tebal diantara tiga buku lainnya.

Wonder whether Andrea will write a new novel, separated from this tetralogy? kabarnya, sekarang beliau sudah mencapai mimpinya untuk tinggal di pedalaman Himalaya sana..Wallahualam..moga sukses dengan semua mimpinya ya pak... moga dipertemukan dg A Ling mu yg sesungguhnya... :)

gambar dipinjam dari RumahBukuIslam

1 comments:

Nies said...

maryamah karpov?hummm..a bit dissapointed... but still recomended to read...

Blog Widget by LinkWithin